Rabu, 24 Desember 2008

dan akupun lelah

ragaku terasa panas dimuka bumi ini
jiwaku terasa lelah meratapi bumi ini
ditempat aku berdiri
dibawah pohon - pohon beton busuk
dinaungi awan - awan hitam pembakaran
dan akupun lelah
berteriak - teriak tak ada yang mendengar
bercerita tak ada yang peduli
bumiku merana bersama ragaku
dan akupun lelah

Kamis, 31 Juli 2008

mata air mata hati

prokimad, 29 juli 2008
11.00 wib

tanpamu ...
aku melihat tanpa mata
aku berjalan tanpa kaki
aku bersuara tanpa kata
aku hidup tanpa hembusan nafas
mata air mata hati
tanpamu ...
aku perlahan memudar
aku perlahan mati
perlahan tapi pasti
mata air mata hati

Selasa, 29 Juli 2008

apa yang ku rasa

aroma tanah basah semerbak
dalam riuh rendah pohon – pohon beton
potongan – potongan aspal panas
dalam selimut asap pekat
dalam rerimbunan hutan kenangan
pohon – pohon musim gugur meranggas
menjatuhkan daun – daun plastik
menyuburkan tanah – tanah kekuasaan
apa yang kau rasa ?
apa yang ku rasa ?
kalau aku melihat tanah bersih
kan kujilati agar tak lari
kalau aku bertemu dengan daun – daun kering
kan kupeluk agar merasuk dalam hati
kapan ? dimana ?
hijau ? bersih ? tanah ?
sampah ? polusi ?
beton ? aspal ?
bumiku ?

satu pohon seribu paku


Satu pohon seribu paku
Satu paku seribu petaka
Senyum manis yang berujung bencana
Bendera kemenangan memilukan
Bumi menangis menahan perih
Kuku – kuku kekuasaan menancap
Dalam sorak sorai pesta rakyat

Senin, 30 Juni 2008

orang gila di pinggir jalan

prokimad 6 januari 2003
udara segar ?!
tak ada lagi !
langit biru ?!
sudah hampir hilang !
polusi ?!
makin menjadi - jadi !
sampah ?!
wah ... makin hari makin liar !
orang gila ?!
apa mau dikata
yang waras jadi gila
yang gila jadi ... ???

Jumat, 30 Mei 2008

air mata pohon tua

22 mei 2008
01.48 wib
mengapa kau menangis pohon tua ?
" aku telah menjadi peneduh
untuk kehidupan mereka,
tapi ..."
mengapa kau menangis pohon tua ?
" aku telah menyimpan tetesan - tetesan air
untuk kehidupan mereka,
tapi ..."
mengapa kau menangis pohon tua ?
" aku memberikan buah - buah
untuk kehidupan mereka,
tapi ..."
mengapa kau menangis pohon tua ?
" aku telah menjadi tempat
anak cucu mereka bercanda tawa,
tapi ..."
tapi ... mengapa kau menangis ?
" aku kini menjadi rumah bagi
paku - paku berkarat yang mereka tancapkan
untuk kehidupan mereka
untuk kekuasaan mereka

Sabtu, 10 Mei 2008

kumencari daunku

prokimad, 4 mei 2008
biasanya ku melihat kau melintas
bercengkerama bersama air
melompar kesana kemari
menyambut indahnya dunia
*
tapi kemana kau ini ?
peluhku kering menunggumu
katanya kau tak bisa kemari
apa gerangan yang terjadi ?
*
sibuk apa kau ini
sakitkah kau ?
lalu kutanya pada air
tapi air tak sampai dihadapanku
*
katanya mata air telah pensiun
pensiun ? layaknya pegawai negeri ?
ah ... ada - ada saja
itu hanya kabar angin - anginan
*
tapi sungai itu kering
benar saja, mata air mungkin lelah
atau sakitkah dia ?
jangan - jangan ... mati ...
*
aku berjalan bersama ilalang
ingin ku urai sebuah tanya
kan ku bawa daun - daun kehidupan
kembali berdendang bersama alam
*
katanya ... benar katanya
mata air itu telah mati
kenapa ? kenapa begini ?
mata air mati, tak ada lagi kehidupan
*
daun - daun hijau?
kemana dia ?
aku tetap mencari
daun - daun mengering, bumi hampir mati

Minggu, 04 Mei 2008

bumiku satu

bumiku satu, mengapa begitu ?
karena itu yang aku tahu
apa ada bumi yang lain ?
bumiku satu, ya memang begitu !
bukan karena kita manusia
hidup diatas bola sampah
bumiku satu, tetap akan seperti itu !
apa mau dikata
andai ada bumi kedua
apa kita tetap jadi manusia
sampah menjadi seperti apa ?
mungkin kita jadi sampah
diantara sampah - sampah kita
bumiku satu, mengapa begitu ?
memang seperti itu
manusia, sampah, manusia
bumiku satu

Kamis, 14 Februari 2008

SKETSA KEHIDUPAN

prokimad, 2003
di antara batu cadas
dia bernafas
di dalam sebuah gelas
berisikan tanya
antara ya dan tidak

jangan kau usik tidurku

merbabu, 2003
kala aku sedang lelap
jangan kau usik tidurku
dengan kemunafikan dan kebejadan
anak cucu adam

Rabu, 06 Februari 2008

cerita untuk fina ( sebuah refleksi )

"barangsiapa yang berbakti kepada kedua orang tua
maka berbahagialah ia dan Allah akan
menambahkan kebahagiaan dalam hidupnya "
( HR. Abu Ya'la dan Tabrani )"
1.
hari ini tujuh belas tahun yang lalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
mendung kelam kini berlalu
cahaya kecil menyinari sukma
memberikan secercah harapan
akan sebuah kehidupan baru
2.
hari ini tujuh belas tahun yang lalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
diujung sebuah penantian panjang
di antara himpitan waktu yang kian mencekik
di bawah payung keraguan
adakah ketidak pastian menjadi pasti ?
akankah harapan menjadi kenyataan ?
3.
hari ini tujuh belas tahun yang lalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
dalam batas kesadaran
merintih...menangis...pedih
terdengar nyanyian kepedihan
indah...walau terasa memilukan
sebuah harapan tentang kehidupan
diantara tetesan darah pengorbanan
4.
hari ini tujuh belas tahun yang lalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
angin meniup dedaunan kering
sebuah penantian panjang
pengorbanan...antara hidup dan mati
perjuangan mempertaruhkan nyawa
hanya demi sebuah kehidupan
belahan hati, belahan jiwa, sang buah hati
5.
hari ini tujuh belas tahun yang lalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
tergolek tanpa daya
menahan sebuah kepedihan
menyelimuti kepiluan dengan kasih sayang
tiada yang lebih indah dari pengorbanan dan cinta ... ibu
6.
hari ini tujuh belas tahun yang lalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
senyum bahagia di antara kerut wajah
tetesan peluh dan air mata suka cita
sebuah tangisan dari bibir mungil
Allahu Akbar...
Engkau telah berikan kehidupan baru
7.
hari ini tujuh belas tahun yhang lalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
kebahagiaan yang tak terperi
menebus kepedihan yang telah dilewati
gadis kecil pembawa harapan
telah berada dalam dekapan
menangis...tertawa...suka cita...bahagia
Yaa Allah, Yaa Rahman, Yaa Rahim
Kau telah tunjukkan kuasa-Mu
8.
hari ini tujuh belas tahun lalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
tetesan-tetesan air kehidupan
menghiasi bibir kecilmu
gembiramu adalah bahagianya
lukamu adalah deritanya
tangis dan tawamu
menjadi hari-hari indahnya
9.
hari ini tujuh belas tahun yang lalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
dalam hangat peluknya
engkau selalu terlelap
dalam indah buaian lembutnya
engkau selalu tersenyum
10.
hari ini tujuh belas tahun yang lalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
gadis kecilnya mulai tumbuh
hari demi hari telah berlalu
dalam belaian kasih sayangnya
berjalan mewujudkan asa dan cita
harapan akan sebuah kehidupan
11.
hari ini tujuh belas tahun telah berlalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
tak ada yang berubah !
kau tetap gadis kecilnya yang dahulu
kasih sayangnya mengikuti kemana langkahmu
telah tergores tinta kehidupan
catatan-catatan panjang sebuah perjalanan
dalam buaian kasihnya yang damai
12.
hari ini tujuh belas tahun telah berlalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
sebuah jalan kehidupan telah dilalui
tertatih-tatih mendaki jalan terjal
tetes-tetes peluh dan harapan
melepaskan nafas kehidupan
menyinari kabut kelam dengan cahaya hati
ridhoillahi fi ridhoal walidaini
wa sukhthullahi fi skhthil walidaini
ridho dan murka Allah berawal darinya
13.
hari ini tujuh belas tahun telah berlalu
seoran gwanita yang kau sebut ibu
ingatkah saat ragamu tak berdaya
ibu...ia telah menjadi penopangmu
ingatkah saat jiwamu merana
ibu...dalam peluknya bahagiamu
ia kan menjadi tempat tuk mengadu
ia kan menjadi tempat tuk kembali
14.
hari ini tujuh belas tahun telah berlalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
adakah yang berubah ? kau? dia?
keetika ia lemah tak berdaya
sudahkah kau menjadi penopangnya
ketika jiwanya pedih dan merana
sudahkah kau menjadi tempat bersandar
biarkan ia melepas kepenatan
biarkan ia melepas kedukaan
biarkan ia melepas tangisan
dalam pelukan gadis kecilnya itu
gadis kecil yang telah tumbuh dewasa
15.
hari ini tujuh belas tahun telah berlalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
dalam lubuk hatinya yang terdalam
dalam nuraninya yang penuh kasih sayang
biarlah bahagia menemanimu
biarkan kepedihan ia nikmati
takkan pernah ia biarkan luka menggores hatimu
16.
hari ini tujuh belas tahun telah berlalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
diatas sajadah usang ia menangis
mengharap ridho sang maha sempurna
doa dan harapan mengiringi lambaian tangan
dalam kerut garis wajahnya yang mulai renta
ibu...ia gantunkan sebuah harapan
buah hati yang menjadi belahan jiwa
hidup mulia di jalan kebenaran
menebarkan bunga-bunga keindahan
17.
hari ini tujuh belas tahun telah berlalu
seorang wanita yang kau sebut ibu
ingatlah yang telah kau goreskan
luka...? bahagia...? duka lara...?
adakah yang berubah?
gadis kecil tetap dalam peluknya
ibu...mampukah pengorbananmu terbalas
ampunilah segala salah dan lupa
tujuh belas tahun telah berlalu
al jannatu tahta aqdamil ummahaati
ibu...surga ada dibawah telapak kakimu
tanpamu takkan mampu aku menggapainya